bersantap-di-restoran-jepang

Cara Bersantap di Restoran Jepang

Berbeda dengan restoran khas Minang di mana para pelayan nyaris selalu sibuk, servis di restoran Jepang cenderung lebih cermat dalam memperlakukan para tamu. Ini memang berakar pada kultur tradisional Jepang yang terkenal sangat service-oriented, mulai dari restoran berjenis ryōtei1 hingga kappou-ryouri-ya atau kappou-ryouri-ten2.

Pas Anda pertama kali menapakkan kaki di restoran Jepang manapun, misalnya, sapaan “irasshaimase” (yang berarti silahkan masuk) akan senantiasa terdengar. Normalnya, apa reaksi Anda? Apakah langsung berjalan cepat dengan kepala tertunduk sebab malu, ataukah terpaku diam karena tak tahu harus berbuat apa? Jawaban yang tepat: none of the above.

Ya, tata cara makan yang benar bukan baru dipraktekkan saat makanan datang, melainkan sejak Anda masuk ke sebuah restoran. Oleh karena itu, agar Anda tak lagi salah tingkah tatkala hendak bersantap di restoran Jepang, simak dahulu tips berikut:

  1. Memasuki restoran
    Rata-rata restoran Jepang memiliki replika makanan dari plastik bernama sampuru yang dipajang dalam kotak akrilik di dekat pintu masuk. Sampuru dibuat sama persis seperti hidangan aslinya sebagai alat bantu visual bagi orang luar, terutama para turis, yang ingin memesan makanan namun tidak menguasai bahasa Jepang dengan baik. Apabila buku menu tidak membantu, Anda boleh langsung menunjuk ke sampuru display untuk memesan makanan yang diinginkan.

    Ketika masuk, Anda akan langsung disambut dengan teriakan “irasshaimase” yang amat bersemangat dari para staff yang terkadang membungkuk sewaktu menyapa. Anda dapat meresponi dengan anggukan sopan atau mengucapkan kata sapaan tidak formal: “doomo” yang bisa berarti “Halo”, “Terima kasih”, atau “Sampai jumpa”. Jadi, pakailah dengan hati-hati.

    Selesai menyapa, mereka akan mendengar pertanyaan “nan mei sama desu ka?” atau “Ada berapa banyak orang?” Anda bisa menjawab dengan ekspresi “san nin desu” untuk tiga orang, atau “hitori desu” untuk satu orang. Kemudian Anda akan diarahkan ke meja tertentu dengan ucapan “kochira e douzo” atau “Silahkan duduk di sini”. Jarang sekali ada restoran Jepang yang mempersilahkan tamu untuk duduk tanpa disambut dahulu.

    Meskipun sebagian besar restoran sudah beralih menggunakan meja dan kursi bergaya barat, meja rendah tradisional di mana Anda makan sambil duduk di atas bantal yang ditebarkan di lantai (zashiki3) masih dapat ditemukan. Jika ada restoran yang memiliki kedua fitur ini, Anda bisa memilih, namun ingat untuk melepaskan sepatu atau sandal di pintu masuk restoran sebelum melangkah menuju tempat duduk.

    Merokok diperbolehkan di banyak restoran di Jepang. Beberapa restoran dilengkapi dengan ruang berjenis smoking (kitsuen) sekaligus non-smoking (kinen), sedangkan ada yang tidak mengizinkan sama sekali (full non-smoking) atau penuh dengan asap rokok (full smoking). Kalau ada pilihan, para staff akan menanyakan preferensi Anda sebelum memilih tempat yang tepat.

  2. Memesan dan makan
    Sewaktu duduk, Anda akan disuguhkan segelas air putih atau teh, tanpa dipungut biaya apapun. Apabila tidak, air putih gratis atau teh biasanya tersedia untuk Anda ambil sendiri di restoran – jika Anda bisa menemukannya. Setiap orang juga akan menerima handuk basah (oshibori) yang akan dipergunakan untuk membersihkan tangan sebelum makan. Temukan sumpit (umumnya dari kayu) di kotak yang ada di meja atau di samping piring Anda. Etika memakai sumpit cukup rumit, tapi Anda cukup mengingat satu golden rule: Jangan pernah menancapkan sumpit layaknya dupa di atas mangkuk nasi Anda yang sedang penuh.

    Walaupun banyak restoran menyediakan menu berilustrasi, ada yang hanya memiliki menu sederhana dalam teks berbahasa Jepang (tanpa petunjuk visual apapun), atau memilih untuk menyajikan “Menu of the Day” di dinding restoran. Kalau Anda mulai ragu dengan perbedaan kanji dan kana, atau tidak mampu memahami menu yang diberikan, tanyakan tentang hidangan yang direkomendasi (osusume) atau pilihan Chef’s Choice (omakase).
    To play safe, silahkan mencoba omakase, yaitu menu multi-course dengan harga tetap yang dipilih langsung oleh chef. Untuk solusi lain, ucapkan kata-kata ajaib berikut: “eigo no menyuu ga arimasu ka?” yang berarti “Apakah ada menu dalam bahasa Inggris?” Jangan lupa mengakhiri setiap request dengan ucapan “onegai shimasu” atau “please”.

    Ketika Anda siap untuk memesan, panggil salah satu server dengan kata “sumimasen” yang berarti permisi, atau pencet tombol Call yang ada di meja.Selesai order, pelayan Anda akan mengulangi kembali pesanan Anda untuk konfirmasi dan berkata “hai, shoushou omachi kudasai” yang berarti “Oke, silahkan menunggu”.

    Waktu makanan disajikan, mulai dengan mengucapkan “itadakimasu” untuk menyatakan rasa syukur atas makanan yang diberikan. Jika makanan yang dipesan wajib disantap panas-panas, pakai ungkapan “osaki ni dōzo” yang berarti “Silahkan duluan”, atau “osaki ni itadakimasu”, “Persilahkan saya untuk memulai duluan sebelum Anda”.

  3. Membayar Bill
    Bill akan diberikan dalam posisi terbalik, baik sewaktu makanan dihidangkan di meja atau setelah Anda selesai makan. Di kebanyakan restoran, Anda diharuskan untuk membayar tagihan di kasir yang berada di dekat pintu keluar karena dianggap lebih sopan. Kebiasaan membayar langsung di meja tidak banyak dilakukan di Jepang.

    Akan tetapi, di beberapa restoran yang lebih terjangkau, ada sistem berbeda untuk memesan dan membayar makanan. Contohnya, di restoran penjaja ramen dan gyūdon4, karcis pesanan harus dibeli dulu di vending machine dekat pintu masuk sebelum diserahkan ke staff yang akan mempersiapkan makanan.

    Tradisi meninggalkan tip tidak berlaku secara umum di Jepang, dan kalaupun Anda berniat untuk meninggalkan sedikit tanda terima kasih, barangkali pelayan restoran malah akan mengejar Anda untuk mengembalikan uang tersebut. Sebagai alternatif, Anda cuma perlu mengatakan “gochisousama deshita” atau “Terima kasih atas makanannya” ketika beranjak pulang.

 

1Ryōtei adalah restoran tradisional Jepang super mewah yang menghidangkan multi-course di ruangan private sambil ditemani dengan beragam jenis hiburan, dan bahkan geisha. Hanya menerima referral; tidak dapat dipesan layaknya restoran biasa.

2Kappou-ryouri-ya atau kappou-ryouri-ten merupakan restoran tradisional berukuran lebih kecil dari ryōtei dengan fitur meja dan kursi bergaya barat untuk casual dining, serta satu hingga dua buah ruangan private.

3Zashiki dulunya dipakai sebagai istilah untuk ruang tamu dengan tikar dari jerami (tatami), tapi kini mulai dipakai untuk mendeskripsikan tempat duduk untuk Izakaya (bar khas Jepang) yang beralaskan tatami atau lantai kayu. Biasanya untuk mengakomodir grup berjumlah banyak.

4Gyūdon diartikan secara literal sebagai “mangkuk berisi daging sapi”. Hidangan klasik Jepang dari nasi dengan topping kombinasi daging sapi dan bawang bombay yang telah dimasak dalam saus manis campuran dashi (kaldu ikan + rumput laut), kecap asin, dan mirin (cuka nasi). Sering dihidangkan bersama telur mentah, onsen tamago (telur yang direbus sebentar), beni shōga (acar jahe), shichimi (cabai merah giling), dan sup miso.