etika-menikmati-sushi

Etika Menikmati Sushi yang Benar

Jika ada makanan klasik Jepang yang dijamin akan membuat dahi Anda mengeryit, itulah sushi. Meskipun terlihat sederhana dengan bahan baku shari[1]dan aneka isi seperti neta[2], sayuran, ataupun buah-buahan, ternyata sushi memiliki teknik makan lumayan rumit, terutama untuk orang Indonesia yang kurang paham dengan seluk beluk tradisi bersantap khas Jepang.

Layaknya kimchi dari Korea, sushi pertama kali diciptakan pada abad kedua Masehi sebagai metode pengawetan makanan di Asia Tenggara. Ikan hasil tangkapan di sungai Mekong diasinkan dahulu sebelum dibungkus dalam nasi yang telah difermentasi, sehingga menghasilkan rasa gurih bernama umami. Setelah beberapa bulan – atau bahkan tahun – ikan dikonsumsi dengan diiris tipis-tipis atau dijadikan sebagai penambah rasa dalam hidangan lain.
Ketika sushi diperkenalkan di Jepang, muncul gaya baru membuat sushi pada zaman Edo, yaitu menggunakan campuran cuka beras dan gula untuk nasi, ikan segar (bukan ikan sisa) serta tambahan filling baru seperti nori (lembaran rumput laut kering).  Nasi juga tak lagi dibuang, tapi turut dikonsumsi. Di tangan Hanaya Yohei, sushi pun akhirnya dimodernisasi menjadi makanan siap saji pada awal abad ke-19.

Kini, setidaknya ada enam jenis sushi tradisional – Chirashizushi, Inarizushi, Makizushi, Narezushi, Nigirizushi, Oshizushi – serta 2 jenis WesternUramaki, American-style Makizushi – yang dapat Anda temukan. Lantas, apakah cara menikmatinya serupa? Silakan telusuri 10 tips sederhana di paragraf berikut.

  1. Pilih sushi-ya (restoran sushi) yang sungguh-sungguh menjaga kebersihan. Karena Anda bakalan mengisi perut dengan aneka seafood mentah, hindari kemungkinan food poisoning dengan memberi perhatian lebih kepada aspek kebersihan. Jika sebuah sushi-ya memiliki aroma seperti pajak ikan, ada baiknya Anda beranjak ke restoran lain. Ikan segar harus tercium seperti air laut: bersih dan segar.
  2. Diberikan alternatif bersantap di meja atau sushi bar, selalu jatuhkan pilihan Anda pada bar. Anda dapat langsung menyaksikan aksi para chef sekaligus berinteraksi dengan mereka. Kebanyakan chef cukup ramah dalam menjawab berbagai pertanyaan mengenai sushi, karena ini menunjukkan ketertarikan mendalam akan apa yang disantap. Namun, usahakan untuk menjaga atmosfer agar tetap tenang.
  3. Untuk pengalaman sushi terbaik, Anda dianjurkan memilih omakase (Chef’s Choice) dengan porsi 7-10 buah sushi. Chef akan memakai tangkapan paling segar pada hari itu sebagai neta untuk sushi Anda. Ada 3 jenis omakase: nami (standar),  (premium) dan toku-jō dengan harga tertinggi. Toku-jō biasanya menggunakan seafood mewah seperti toro (daging perut tuna), ikura (telur ikan salmon) serta uni (landak laut). Apabila Anda memilih a lá carte, mulailah dengan sushi yang memiliki neta netral layaknya hirame atau tai (sejenis ikan putih), lalu neta dengan rasa intens layaknya maguro, sebelum mengakhiri dengan ikura atau uni.
  4. Saat disuguhkan dengan nigirizushi[3] atau sushi rolls, Anda diusulkan untuk menggunakan tangan, bukan sumpit. Tekanan dari jari sewaktu memakai sumpit akan membuat shari yang dikemas longgar menjadi berjatuhan. Sebaliknya, terapkan teknik segitiga: ibu jari dan jari tengah mengapit nigiri, sedangkan jari telunjuk diposisikan di atas neta. Lalu, cocolkan seperlunya ujung neta ke dalam shoyu (kecap) tanpa menyentuh shari, dan masukkan seluruh nigiri ke dalam mulut dalam posisi terbalik agar neta langsung bersentuhan dengan lidah. Kalau sushi yang disajikan sudah diberi saus, seperti unagi, tak usah lagi menambahkan shoyu. Apabila Anda benar-benar enggan memakai tangan, silakan memakai sumpit, khususnya untuk sashimi.
  5. Renjiro Sushi Medan

  6. Hindari menggunakan sumpit untuk menunjuk suatu makanan, apalagi orang. Tindakan ini dianggap sangat tidak sopan dalam kultur timur, termasuk Jepang, karena diartikan sebagai gestur memaki. Untuk memindahkan makanan dari satu piring ke piring lainnya, pakai bagian pangkal yang tumpul dari sumpit Anda, alias belum menyentuh bibir. Letakkan sumpit dalam posisi terlentang di atas sandaran yang telah diberikan. Jangan pernah menancapkan sumpit layaknya dupa dalam makanan Anda, karena ini merupakan pertanda buruk bagi orang Jepang yang hanya melakukan hal serupa ketika seseorang meninggal.
  7. Jika Anda mengaku sebagai seorang penggemar sushi, Anda harus mampu membedakan rasa, temperatur, serta tekstur dari hidangan sushi yang baik. Jadi, makanlah secara beraturan. Biasakan untuk memulai dengan sashimi, sushi, lalu nasi dan sup miso. Cobai gari (acar jahe) bila Anda membutuhkan palate cleanser dari satu sajian ke sajian lainnya, tapi jangan makan gari bersama dengan sushi atau sashimi.
  8. Makan sushi begitu disajikan, sebab Anda pasti akan mendapatkan rasa terbaik. Shari masih hangat dan lemak dalam neta juga ikut terhangatkan oleh tangan chef. Oleh karena rasa neta bisa berubah seiring waktu dan suhu, maka sushi tidak disarankan untuk dibawa pulang sebagai take-away. Setelah beberapa waktu, bahkan chef akan membuat lagi sushi baru untuk Anda apabila yang lama telah dingin.
  9. Soal wasabi, pasta hijau dengan rasa pedas mengigit ini umumnya sudah diselipkan di antara shari dan neta dalam sajian nigirizushi. Apabila tidak, Anda boleh menaruh sedikit wasabi di atas neta, kemudian celupkan seperlunya salah satu ujung neta ke dalam shoyu. Lakukan hal yang sama saat mencicipi sashimi. Jangan langsung mencampurkan wasabi dengan shoyu. Menggunakan saus yang terlalu berlebihan – wasabi atau shoyu –mensinyalkan bahwa si chef tidak membumbui sushi dengan baik.
  10. Kalau memungkinkan, habiskan sashimi, nigirizushi, atau makizushi dalam satu gigitan, karena hidangan tersebut memang disusun sedemikian rupa untuk dihabiskan dalam sekali makan. Minta bantuan chef untuk memotong sushi dalam ukuran yang Anda inginkan jika dirasa terlalu besar (jarang terjadi). Ingat: cara pembuatan sushi adalah seni, jadi hindari memisah-misahkan bagian sushi secara sembrono.
  11. Sebagai bentuk terima kasih kepada chef, jangan sisakan sedikitpun makanan di piring Anda – bahkan sebulir nasi. Ucapkan “gochisousama deshita” dan silakan pulang dengan hati gembira beserta perut yang kenyang.

[1]Shari merupakan nasi dari beras Jepang yang dipakai untuk membuat sushi (sajian shari dengan topping macam sashimi, telur, tempura, dll.) Setelah nasi masak dan dingin, baru ditambahkan gula. Dikenal juga sebagai sumeshi.

[2]Neta berarti ikan atau seafood, umumnya digunakan sebagai topping untuk nigirizushi.

[3]Nigirizushi adalah sejenis sushi dengan neta berupa potongan seafood segar di atas shari yang dibentuk menyerupai balok kecil. Dihidangkan dalam jumlah dua atau lebih dengan sedikit wasabi di antara neta dan shari.